Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati

Setahun yang lalu aku mengenal seseorang yang sangat baik. Dia tiba-tiba datang menenangkanku ketika bola kaca di hatiku retak karena suatu hal. Dia bilang bisa membantu memperbaikinya, tapi dia meminta aku menunggu karena saat itu sedang mengerjakan tanggungjawab yang lain. Seiring waktu berjalan, kami pun saling bertukar cerita tentang teman, keluarga, hobi dan masih banyak lagi. selama cerita mengalir dari masing-masing hati, sepertinya ada yang aneh dari diriku. Terutama ketika aku menyadari bahwa bola kacaku terasa baik-baik saja meski sudah retak, terasa nyaman dan apa adanya. Suatu hari kami pernah berencana naik sepeda bareng, sambil membawa bola kacaku yang sudah tidak sempurna itu, menuju rumah hatinya. Lalu aku pun menunggunya di suatu tempat. Lama sekali dia tidak datang…orang-orang yang ada di situ berlalu lalang dengan cepat, sementara aku masih diam dengan sepeda terparkir manis di tepi. Mungkin karena bosan melihatku bengong tanpa kerjaan, seorang teman membunyikan bel sepedanya ketika  lewat di depanku. “Kring…kring…mau sampai kapan di situ?” tanyanya ketus. Aku cuma mesem, lalu membalas, “Sampai aku ketiduran…dan mungkin masih bisa ketemu dia dalam mimpi…itu sudah cukup.” Lalu aku tetap diam  di samping sepedaku, sementara temanku cuma geleng-geleng kepala, “Terserah kamu lah…” dan pergi mengayuh sepedanya sendiri. Aku masih kukuh di situ, menunggu sambil sesekali membaca smsnya, “Hati saya udh untuk seseorang…Seseorang yg sudah dgn sabar menantiku dgn sepeda cintanya ^^

Continue reading “Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati”

Tulang Rusuk

Bukan dari tulang ubun ia dicipta

Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja

Tidak pula dari tulang kaki karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tetapi dari rusuk kiri

Dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.

(Agar Bidadari Cemburu Padamu- Salim A.Fillah)

“Yang paling kamu cintai di dunia ini siapa?” tanya seorang cewek pada pacarnya.

“Kamu dong!” jawab si cowok dengan mantap.

“Menurut kamu, aku ini siapa?” si cewek kembali bertanya.

Mendengar pertanyaan kedua si cowok berpikir sejenak lalu menatap si cewek dengan pasti, “Kamu adalah tulang rusukku.”

Karena Tuhan melihat bahwa adam kesepian, ketika adam tidur, Tuhan mengambil tulang rusuknya dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita yang cocok untuknya, ia merasa lengkap dan tidak merasakan sakit di hati.

Setelah menikah, pasangan tersebut (si cewek dan cowok tadi) mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Namun sesudah itu pasangan muda ini mulai tenggelam dalam rutinitas masing-masing dan penat akan kehidupan yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pada suatu hari si cewek lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Si cowok yang sangat membenci ketidakdewasaan si cewek, secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah. Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Mendengar hal itu, si cewek terdiam di seberang jalan. Tak lama kemudian, ia berbalik masuk rumah dan keluar membawa barang-barangnya. Sambil bermata basah ia berkata, “Kalau aku bukan tulang rusukmu, lebih baik kita berpisah. Biarkan kita mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu. Si cowok tidak menikah lagi, di sela-sela kesibukannya ia berusaha mencari tahu kehidupan si cewek. Saat itu si cewek pernah pergi ke luar negeri dan menikah dengan pria asing di sana kemudian bercerai. Si cowok agak kecewa mengapa ia tidak menunggunya kembali. Di tengah malam yang sunyi ketika si cowok meneguk kopinya, ia merasakan sakit di hatinya.

Suatu hari, mereka akhirnya bertemu. Di airport, tempat dimana banyak perpisahan dan pertemuan, mereka berbicara di antara dinding pembatas.

“Apa Kabar?” tanya si cowok.

“Baik. Apakah kau sudah menemukan tulang rusukmu yang hilang?” ujar si cewek balas bertanya.

“Belum.”

“Aku akan terbang ke New York dan 2 minggu lagi akan kembali. Jika kau sempat, telepon saja aku, nomornya masih sama,” si cewek tersenyum kemudian berpamitan.

Sayangnya si cowok tak sempat menelponnya. Satu minggu setelah keberangkatannya, si cewek dikabarkan sebagai salah satu korban menara WTC. Malam itu, sekali lagi, si cowok meneguk kopinya dan kembali merasakan sakit di hati. baru ia sadari, ternyata rasa sakit itu karena si cewek, tulang rusuknya sendiri yang dengan bodoh ia patahkan.

(disadur dengan sedikit perubahan dari www.tanpatinta.com)

NB : dua tulisan yg menarik… kira2 si empunya tulang rusuk sekarang sedang nyari nggak ya?

may God give him the way to find me…^^

“………….”

Let’s dance like no one is watching,

Let sing like no one is listening to us,

Let work like we don’t need money for it

Let’s  love like we’re never being hurt before

Let’s live like it’s heaven on earth

Seperti apa rasanya menari tanpa peduli ada atau tidaknya orang yang menyaksikan? Bagaimana bernyanyi tanpa harus khawatir orang lain berkomentar bahwa suara kita fals? Bekerja tanpa perlu memikirkan gaji? Hanya karena kita memang menyukai pekerjaan itu? Jatuh cinta lagi tanpa takut untuk kembali tersakiti? Dan hidup seolah surga dalam bentuk mini telah diberikan pada kita sebelum mati?

Hmm…saat membacanya berulang-ulang, aku menghela nafas panjang. That must be great life! So, Let’s try it from now! No matter how hard we face that real life…

my Lecturer said

Tidak ada kebetulan di dunia ini. segalanya terjadi karena ijin dan kehendakNya. karena tidak ada sesuatu terjadi begitu saja tanpa arti, seperti juga ketika Dia menciptakan segala yang ada di langit dan bumi dengan tiada sia-sia.