Saat bertambah TUA

Seharusnya kau malu, jika pada hari ini, saat satu dua uban sudah mulai tampak di antara helai rambutmu dan segaris tipis kerut muncul di tepian mata, kau masih saja belum becus mengeja kata yang difirmankan Tuhanmu. Sujudmu masih ala kadarnya, infaqmu masih berbunyi di dasar kotak amal.

Katanya mau mengejar impian, bagaimana bisa lari mengejar kalau rutenya saja masih belum hafal? kau tidak bisa bertanya pada Dora atau si peta, karena ini adalah perjalananmu sendiri.

Selamat untuk hari ini. Maaf tidak ada kue atau tiup lilin. pesan di atas adalah hadiahku untukmu.

#DariNandaUntukPuspita

A short trip to my HOME country

Tak ada sesuatu yang bisa mendadak memberimu ‘recharge’ energi berjuta kilo joule dan menarik otot wajahmu membentuk senyum lebar melebihi perjalanan pulang ke rumah. Yup, seperti itu lah sensasinya saat saya melangkahkan kaki keluar pintu kos dan bersiap menuju Kingsford Smith airport ūüôā Winter break bulan ini saya memutuskan untuk balik ke Indonesia.¬†Tiket PP Sydney-Jakarta yang memotong seperlima dari stipend pun sudah saya siapkan jauh hari. tak apa mahal, anggap saja kali ini saya sedang membeli kebahagiaan. Pulang ke rumah alias mudik selalu menjadi moment yang membahagiakan tak peduli berapa pun harganya. Apalagi liburan kali ini bertepatan dengan ramadhan dan syawal pertama bersama suami. Betapa saya akan merasa bersalah jika saat sahur dan berbuka dia harus menyiapkannya seorang diri (ceritanya lagi mau sok romantis). Selain itu,¬†jujur saja, saya merasa kangen dengan Indonesia, terutama kota Jakarta dan Jogja.

Sebuah anomali memang, ketika di Sydney segala kemudahan tersedia. Transportasi lancar, kampus nyaman, kota yang cantik. Namun, di Sydney tidak ada sambel tempe langsung dari cobeknya, bubur ayam cikini, dan bakmi nyemek mbah Mo. di Sydney juga tidak ada go-jek, yang siap mengantarkan saya kalau mau mampir ke tanah abang.

Benar kata teacher saya sewaktu PDT, saat pertama kali merantau ke negeri orang dan kamu melihat segalanya tampak mengagumkan, saat itu kamu hanya mengalami ‘honeymoon syndrome’. Perasaan senang sesaat akan lingkungan baru sebelum perlahan kamu merindukan tempat lamamu. Segala yang serba mudah dan wah di negeri orang mendadak terasa hambar saat tak ada senyum orang-orang terkasih di sampingmu. Setelah terbang ribuan kilometer ini saya baru menyadari, betapa indahnya tempat asal saya. betapa nikmatnya menyendok bubur ayam di hari minggu, berdesakan di warung tenda, setelah senin sampai jumat terjebak macet tiap pulang kantor. Betapa cantiknya sawah dekat komplek rumah di Jogja setelah sekian tahun saya lewat sepulang sekolah dan tak sedikit pun saya menganggapnya istimewa. Tidak bermaksud untuk mengeneralisir, saya yakin, siapapun ketika pulang ke kota kelahirannya akan merasakan hal yang sama.

Meski hanya sebulan, alhamdulillah ramadhan dan idul fitri kali ini amat berkesan. Perjalanan ke negeri orang ternyata memberi saya jarak dan ruang untuk menoleh kembali ke negeri sendiri. Dan dengan segala ketidaksempurnaannya, saya akan tetap tersenyum memandang Indonesia.

IMG-20150731-WA0004

Accapella, from melody into harmony

Bermula dari menonton film komedi musikal PITCH PERFECT yang tak sengaja dibawa oleh salah satu teman semasa kos dulu, saya mulai suka mendengarkan grup accapella bernyanyi. Bulan Mei lalu, saat sekuel PITCH PERFECT 2 tayang, saya pun tak ketinggalan menonton aksi fat Amy dkk yang super konyol sekaligus awesome. Konyol karena ada saja tingkah kocak dalam film ini dan awesome karena mendengarkan bagaimana sebuah grup accapella bernyanyi itu membuat saya merinding.

Accapella, yang dalam Collin english Dictionary berarti “classical music without instrumental accompaniment” ¬†telah mampu menyihir para penggemarnya (termasuk saya) dengan cara bernyanyinya yang menurut saya unik. Untuk orang awam seperti saya, keunikan itu terletak pada bagaimana grup ini bisa memadukan setiap jenis suara murni dari mulut menjadi satu harmoni yang enak didengar. Sungguh, bukan pekerjaan mudah menyuarakan nada alto, tenor, bass, atau beatboxing tanpa terganggu suara dari teman segrupnya. Fokus tinggi dewa kalau bahasa lebay-nya. (kemudian saya teringat saat-saat karaoke bareng teman, saat si teman menambahkan suara kedua, mendadak suara saya yg aslinya sudah fals jadi makin fals…LoL)

bernyanyi gaya accapella ini selain butuh fokus juga butuh teamwork yang solid. kalau salah satu anggotanya mau menang sendiri atau sok eksis, dijamin nggak bakal jadi. salut dengan orang-orang yang tergabung dalam grup accapella, yang dengan suara khasnya mampu meredam ego dan mengutamakan harmoni dalam lagu yang mereka nyanyikan. saya terutama dibikin ‘melongo’ oleh kemampuan beatboxing. menurut saya, ini olahraga lidah dan mulut yang teramat susah. pun ada saja orang jenius yang bisa memainkannya. My hat off to you, guys!

keasikan searching di youtube, saya jadi sering memutar ulang closing performance di film PITCH PERFECT 2, saat Emily dkk menyanyikan Flashlight (so emotional..I was moved).  berikut juga ada beberapa Accapella group yang suka saya dengarkan lagu covernya, diantaranya  Pentatonix (cover lagu Rather Be by Clean bandit) dan Filharmonic (cover All of Me by John Legend) cekidot!