Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati

Setahun yang lalu aku mengenal seseorang yang sangat baik. Dia tiba-tiba datang menenangkanku ketika bola kaca di hatiku retak karena suatu hal. Dia bilang bisa membantu memperbaikinya, tapi dia meminta aku menunggu karena saat itu sedang mengerjakan tanggungjawab yang lain. Seiring waktu berjalan, kami pun saling bertukar cerita tentang teman, keluarga, hobi dan masih banyak lagi. selama cerita mengalir dari masing-masing hati, sepertinya ada yang aneh dari diriku. Terutama ketika aku menyadari bahwa bola kacaku terasa baik-baik saja meski sudah retak, terasa nyaman dan apa adanya. Suatu hari kami pernah berencana naik sepeda bareng, sambil membawa bola kacaku yang sudah tidak sempurna itu, menuju rumah hatinya. Lalu aku pun menunggunya di suatu tempat. Lama sekali dia tidak datang…orang-orang yang ada di situ berlalu lalang dengan cepat, sementara aku masih diam dengan sepeda terparkir manis di tepi. Mungkin karena bosan melihatku bengong tanpa kerjaan, seorang teman membunyikan bel sepedanya ketika  lewat di depanku. “Kring…kring…mau sampai kapan di situ?” tanyanya ketus. Aku cuma mesem, lalu membalas, “Sampai aku ketiduran…dan mungkin masih bisa ketemu dia dalam mimpi…itu sudah cukup.” Lalu aku tetap diam  di samping sepedaku, sementara temanku cuma geleng-geleng kepala, “Terserah kamu lah…” dan pergi mengayuh sepedanya sendiri. Aku masih kukuh di situ, menunggu sambil sesekali membaca smsnya, “Hati saya udh untuk seseorang…Seseorang yg sudah dgn sabar menantiku dgn sepeda cintanya ^^

Waktu berputar sangat lambat bagiku, dan di setiap detak jarumnya, seperti membuat retak yang makin lebar di bola kacaku. Mungkin sudah sekitar empat kali aku beri ia kabar melalui sms, berkata bahwa sebaiknya aku pulang saja, karena menunggu bukanlah hal yang mudah. Satu hal ini sepertinya memang tidak banyak membuang energi fisik, tetap menguras energi batinku perlahan-lahan. Namun dia selalu berkata, “Please tunggu sebentar, semuanya akan baik-baik saja kok.”  Tetapi selalu ada yang tidak beres dengan bola kaca di hatiku, “semakin lama kok makin perih ya?” tanyaku dalam kebimbangan dan putus asa. Dan setelah menimbang banyak hal, kuputuskan untuk datang sendiri ke rumah hatinya. Dengan sisa ketegaran dan ketenangan yang semu untuk mengatasi beban hati, kukayuh sepedaku.

Sesampainya di teras rumah sayup kudengar suaranya. Kuketuk pintu hatinya berulang, tetapi tak ada jawaban. Di teras, masih kubawa bola kacaku, ingin menanyakan apakah ia jadi membantu memperbaikinya atau tidak. Aku tahu sebenarnya masih banyak hal yang harus ia kerjakan, dan tanggung jawabnya menjadi batasku untuk tidak ingin merepotkannya terus-terusan. Tetapi terdengar suara dari dalam, “Tunggu sebentar…” dan lagi-lagi harapanku muncul.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara gagang pintu bergerak, namun tetap tidak terbuka. “Maaf…sepertinya masih terkunci…tapi entah kuncinya ada dimana…” nada suaranya terdengar bingung.

Aku gemas sekali dengan sikapnya. Sebagian diriku yang egois bergumam, “Bagaimana ia bisa tidak tahu kuncinya ada di mana? Dan membiarkan aku menunggu selama ini…”  bola kacaku makin retak, dan aku menangis dalam hati. Kesal luar biasa.

Lama pintu itu tak terbuka, dan aku hanya bisa berkesimpulan, mungkin kuncinya terselip diantara tumpukan hal-hal yang ia kerjakan dan tanggung jawabnya. Mungkin juga kunci itu dibawa oleh seseorang tanpa bisa ia minta kembali. Atau  kunci itu sedang ada di tangan Allah, yang sedang menguji masing-masing hati kami agar kami bertambah mengerti tentang arti cintaNya.

Perlahan aku berbalik. Tidak apa-apa, aku akan pergi sebentar memperbaiki bola kacaku sendiri. Suatu saat aku pasti datang berkunjung lagi kok, dan semoga di saat itu ia sudah menemukan letak kunci rumah hatinya.

 

Jum’at pagi, 23 oktober 2009

Terinspirasi sehabis baca ‘Perahu Kertas’, novel karya Dee yang tiap lembarnya bikin ingin sama kamu. Ceritanya indah dan Hollywood ending, Dee memang pengarang yang keren. Tetapi, kurasa ada Pengarang yang lebih dari sekedar keren dalam membuat kisah hidup, dan aku akan membiarkan kisahku mengalir di tanganNya….

Maafkan aku ya sahabatku, selalu kata-kataku tidak berkenan di hatimu…maaf…

Advertisements

8 thoughts on “Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati

  1. Perahu kertasnya Keenan dan kugy ya? kayaknya bagus tu.. mari membaca 😀

    #pasti selalu ada maaf kok dari sahabatmu itu untukmu.. biar waktu yang menyembuhkan semuanya.. iya kan? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s