Saat bertambah TUA

Seharusnya kau malu, jika pada hari ini, saat satu dua uban sudah mulai tampak di antara helai rambutmu dan segaris tipis kerut muncul di tepian mata, kau masih saja belum becus mengeja kata yang difirmankan Tuhanmu. Sujudmu masih ala kadarnya, infaqmu masih berbunyi di dasar kotak amal.

Katanya mau mengejar impian, bagaimana bisa lari mengejar kalau rutenya saja masih belum hafal? kau tidak bisa bertanya pada Dora atau si peta, karena ini adalah perjalananmu sendiri.

Selamat untuk hari ini. Maaf tidak ada kue atau tiup lilin. pesan di atas adalah hadiahku untukmu.

#DariNandaUntukPuspita

A short trip to my HOME country

Tak ada sesuatu yang bisa mendadak memberimu ‘recharge’ energi berjuta kilo joule dan menarik otot wajahmu membentuk senyum lebar melebihi perjalanan pulang ke rumah. Yup, seperti itu lah sensasinya saat saya melangkahkan kaki keluar pintu kos dan bersiap menuju Kingsford Smith airport🙂 Winter break bulan ini saya memutuskan untuk balik ke Indonesia. Tiket PP Sydney-Jakarta yang memotong seperlima dari stipend pun sudah saya siapkan jauh hari. tak apa mahal, anggap saja kali ini saya sedang membeli kebahagiaan. Pulang ke rumah alias mudik selalu menjadi moment yang membahagiakan tak peduli berapa pun harganya. Apalagi liburan kali ini bertepatan dengan ramadhan dan syawal pertama bersama suami. Betapa saya akan merasa bersalah jika saat sahur dan berbuka dia harus menyiapkannya seorang diri (ceritanya lagi mau sok romantis). Selain itu, jujur saja, saya merasa kangen dengan Indonesia, terutama kota Jakarta dan Jogja.

Sebuah anomali memang, ketika di Sydney segala kemudahan tersedia. Transportasi lancar, kampus nyaman, kota yang cantik. Namun, di Sydney tidak ada sambel tempe langsung dari cobeknya, bubur ayam cikini, dan bakmi nyemek mbah Mo. di Sydney juga tidak ada go-jek, yang siap mengantarkan saya kalau mau mampir ke tanah abang.

Benar kata teacher saya sewaktu PDT, saat pertama kali merantau ke negeri orang dan kamu melihat segalanya tampak mengagumkan, saat itu kamu hanya mengalami ‘honeymoon syndrome’. Perasaan senang sesaat akan lingkungan baru sebelum perlahan kamu merindukan tempat lamamu. Segala yang serba mudah dan wah di negeri orang mendadak terasa hambar saat tak ada senyum orang-orang terkasih di sampingmu. Setelah terbang ribuan kilometer ini saya baru menyadari, betapa indahnya tempat asal saya. betapa nikmatnya menyendok bubur ayam di hari minggu, berdesakan di warung tenda, setelah senin sampai jumat terjebak macet tiap pulang kantor. Betapa cantiknya sawah dekat komplek rumah di Jogja setelah sekian tahun saya lewat sepulang sekolah dan tak sedikit pun saya menganggapnya istimewa. Tidak bermaksud untuk mengeneralisir, saya yakin, siapapun ketika pulang ke kota kelahirannya akan merasakan hal yang sama.

Meski hanya sebulan, alhamdulillah ramadhan dan idul fitri kali ini amat berkesan. Perjalanan ke negeri orang ternyata memberi saya jarak dan ruang untuk menoleh kembali ke negeri sendiri. Dan dengan segala ketidaksempurnaannya, saya akan tetap tersenyum memandang Indonesia.

IMG-20150731-WA0004

Accapella, from melody into harmony

Bermula dari menonton film komedi musikal PITCH PERFECT yang tak sengaja dibawa oleh salah satu teman semasa kos dulu, saya mulai suka mendengarkan grup accapella bernyanyi. Bulan Mei lalu, saat sekuel PITCH PERFECT 2 tayang, saya pun tak ketinggalan menonton aksi fat Amy dkk yang super konyol sekaligus awesome. Konyol karena ada saja tingkah kocak dalam film ini dan awesome karena mendengarkan bagaimana sebuah grup accapella bernyanyi itu membuat saya merinding.

Accapella, yang dalam Collin english Dictionary berarti “classical music without instrumental accompaniment”  telah mampu menyihir para penggemarnya (termasuk saya) dengan cara bernyanyinya yang menurut saya unik. Untuk orang awam seperti saya, keunikan itu terletak pada bagaimana grup ini bisa memadukan setiap jenis suara murni dari mulut menjadi satu harmoni yang enak didengar. Sungguh, bukan pekerjaan mudah menyuarakan nada alto, tenor, bass, atau beatboxing tanpa terganggu suara dari teman segrupnya. Fokus tinggi dewa kalau bahasa lebay-nya. (kemudian saya teringat saat-saat karaoke bareng teman, saat si teman menambahkan suara kedua, mendadak suara saya yg aslinya sudah fals jadi makin fals…LoL)

bernyanyi gaya accapella ini selain butuh fokus juga butuh teamwork yang solid. kalau salah satu anggotanya mau menang sendiri atau sok eksis, dijamin nggak bakal jadi. salut dengan orang-orang yang tergabung dalam grup accapella, yang dengan suara khasnya mampu meredam ego dan mengutamakan harmoni dalam lagu yang mereka nyanyikan. saya terutama dibikin ‘melongo’ oleh kemampuan beatboxing. menurut saya, ini olahraga lidah dan mulut yang teramat susah. pun ada saja orang jenius yang bisa memainkannya. My hat off to you, guys!

keasikan searching di youtube, saya jadi sering memutar ulang closing performance di film PITCH PERFECT 2, saat Emily dkk menyanyikan Flashlight (so emotional..I was moved).  berikut juga ada beberapa Accapella group yang suka saya dengarkan lagu covernya, diantaranya  Pentatonix (cover lagu Rather Be by Clean bandit) dan Filharmonic (cover All of Me by John Legend) cekidot!

Mia dan Lelaki Bermata Teduh

Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu layar monitor Mia menampilkan warna biru, tetapi si pemiliknya tak bergeming sama sekali. Beberapa dokumen masih menumpuk di meja sementara jam makan siang sebentar lagi berdentang. Ada yang tersangkut dalam pikirannya, hingga ia menyerah menatap realita dan bergumul di dunianya sendiri. Bayangan lelaki itu telah menyita waktunya siang ini. Lelaki yang sebenarnya sudah memiliki setiap detik waktu Mia tanpa mampu ia enyahkan. Kini bayangnya datang lagi saat Mia tanpa sengaja meng-klik salah satu foto teman semasa SMA-nya di situs jejaring sosial. Arka, nama lelaki itu. Pemilik mata teduh yang terbingkai kacamata frame tipis. Selama dua tahun ini pikiran Mia tak pernah berhenti mengabsen namanya.
Dering jam terdengar dari arah meja kerja Poppy, teman kantor Mia, tanda waktunya lunch. Mia terhenyak hampir melompat dari kursi. Ditatapnya tumpukan dokumen yang harus ia serahkan pada Pak Allan pukul 14.00 nanti. OMG! Sambil mendesah Mia menggeser kursor menghilangkan screen saver warna biru itu untuk mulai mengerjakan tugasnya.
“Puas ya sekarang, udah bikin jadwal kerja gue berantakan…” gumamnya setengah manyun sambil menatap foto sekumpulan teman SMA-nya.
“Ngomong sama siapa, lo? Eh, siapa tuh? Cowok lo?” tiba-tiba wajah Poppy sudah menyembul di balik kubikel sedetik sebelum Mia sempat menutup layar situs itu.
“Bukan! udah ah, hush…hush…” buru-buru Mia mengklik tombol exit.
“Santai dikit napa?” ujar Poppy sambil tetap berusaha mengintip di balik kubikel. “Maksi yuk, gue laper nih…” tambahnya kemudian.
“Duluan aja Pop… gue musti buru-buru ngerjain ini…”
“Ckckck….helloooww…dari tadi ngapaiiiin? Kayaknya gue musti bilang nih sama bos, kalau ada anak buahnya yang hobi ngelamun-nya udah kronis!” celoteh Poppy sambil lalu.
Mia hanya tersenyum kecut mendengar ocehan sahabatnya. Diketiknya kembali halaman excel yang baru mengalami kemajuan lima persen sejak awal ia membukanya.
***
Hujan menemani perjalanan pulang Mia sore itu. Selepas menyerahkan laporan dan presentasi yang cukup panjang di depan bosnya, Mia bergegas merapikan kubikelnya dan memesan taksi. Tulang punggungnya serasa remuk setelah duduk mengetik banyak laporan dan membuat poin-poin presentasi. Ia sadar tak cukup kuat berdiri bergelantungan di dalam bis kota kali ini.
Sesampainya di depan rumah Mia berlari kecil menghalau gerimis. Langkah kakinya menyisakan jejak sepatu berlumpur di teras. Bunda sudah terlelap di sofa sejak Mia membuka pintu depan. Perlahan Mia melangkah menuju dapur. Tak dibiarkannya bunyi gemerincing kunci dan gantungan tas ranselnya mengusik tidur bunda. Sesaat setelah wajahnya tersapu air hangat dan berganti baju, Mia bersandar di sofa merahnya sambil menyesap secangkir teh jasmine hangat. Matanya melirik ke arah laptop biru di atas meja kamar. Tangannya tergoda untuk meraih laptop ke pangkuan. Sepulang kantor Mia tak lantas bisa lupa dengan peristiwa tadi siang. Ketidaksengajaannya membuka laman itu membuka pula kenangan yang ia ingin tutup rapat-rapat. Ditatapnya layar 11 inci di hadapannya. Dengan dua tiga kali klik, ia menemukan link dari foto milik teman SMAnya itu. Di sana ia memandang sosok Arka sedang menyunggingkan senyum. Si pemilik senyum tak sadar bahwa setiap saat ia bisa membuat hati Mia merasakan sensasi naik roller coaster. Mia masih ingat bagaimana dengan mudahnya Arka menjungkir balik hati Mia, persis seperti roller coaster saat ia berkata “Hari ini kamu manis, Mia…” ketika Mia memakai kebaya encim milik mama di hari Kartini. Pun dengan santainya, ia duduk di sebelah Mia, saat tak ada seorang pun teman yang mau duduk di sebelahnya selepas ia sakit cacar.
Foto rombongan itu mendorong Mia meng-klik tautan nama Arka yang di-tag di sana. Ragu, kursornya berkedip. Deg. Jantung Mia berdegup. Ia seolah sedang berusaha membuka dokumen agen CIA. Bagaimana kalau ada aplikasi ‘Who’s viewed me?’ dan ia tertangkap basah seperti penguntit? Tetapi, intuisi Mia bergerak selangkah lebih cepat dari akalnya. Tanpa berpikir panjang lagi, tangannya menyentuh mouse dan mengklik tautan itu. Dan di sanalah sketsa lelaki itu terpampang dengan jelas.
Mia tertegun. Betapa waktu tak banyak merubah sosok Arka. Ia tetap lelaki berkacamata yang sama seperti saat SMA dulu. Hanya sedikit perubahan nampak di garis wajahnya yang semakin tegas dan badannya yang menurut Mia sangat cocok dibalut setelan tuxedo.
“Kamu mau kemana setelah lulus nanti Mi?” tanyanya sambil memainkan pensil di atas buku tugasnya yang sudah berhias coretan sana-sini.
“Mau kuliah jurusan desain interior. Kelak aku akan merancang rumah masa depanku dengan furniture yang aku inginkan,” ucap Mia dengan mata berbinar. Tak disadarinya ada yang tersenyum memperhatikan binar mata itu.
“Kalau aku mau keliling dunia,” ucapnya sembari menatap langit-langit kelas.
Mia membaca deretan komentar dan keterangan info di sudut kanan atas profil lelaki itu.  travel is the only thing you buy that makes you richer. Caption dari salah satu foto landscape Cappadocia yang diupload ke dalam timeline-nya. Mia tersenyum. Kini ia tahu mengapa Arka tidak tampak dalam reuni yang diadakan teman-teman SMA setahun lalu. Rupanya dia masih memiliki impian itu. Impian untuk menjelajah setiap sudut indah di seluruh dunia.
“Untuk mencari rumah impianmu. Kalau sudah ketemu nanti, akan kubuat yang serupa atau bahkan lebih bagus,” dalihnya saat dulu Mia bertanya kenapa lebih mementingkan jepretan-jepretan itu dibanding tugas membuat maketnya yang bejibun.
Hanya dengan mengenangnya saja pipi Mia sudah merona. Seolah Arka berucap kembali di dekat telinganya. Mia tak tahu kenapa bisa begitu. Aura lelaki itu seperti sudah menyatu dalam hati dan pikirannya. Dan tak ada yang tak bisa dia ingat tentang Arka meski dua tahun berlalu tanpanya.
Mia begitu iri dengan lelaki itu. Dia hanya punya satu impian dalam hidupnya. Keliling dunia. Dan tampaknya kini impian itu sangat mudah terwujud, semudah ia mengucapkannya dulu. Sementara Mia harus jatuh bangun untuk sekedar mewujudkan apa yang pernah ia ucapkan dulu. Kuliah di jurusan desain interior tidak menjamin ia berkarir di dunia yang sama. Beberapa kali penolakan saat pengajuan lamaran kerja membuatnya melonggarkan target. Pada akhirnya dia harus puas terdampar di sebuah perusahaan finance, berkejaran dengan deadline dan laporan.
Dingin yang menusuk malam, memaksa Mia membungkus jemari tangan ke dalam lengan sweaternya yang kebesaran. Aroma teh jasmine-nya menguap dengan cepat. Mia hendak beranjak ke dapur untuk menyeduh kembali teh-nya saat terdengar bunyi ‘bib’ dari laptopnya. Matanya hampir tak mempercayai sebaris kalimat sapaan yang tampak di layanan chat situs itu.
Halo Mini!
Buru-buru Mia mendekatkan wajahnya ke layar laptop. Ia berusaha mencari kacamata minusnya di laci meja. Dia jarang mengenakan kacamata minus setengah itu, tapi kali ini ia mendadak sangat membutuhkannya.
Mia membaca kalimat sapaan pendek itu sekali lagi. Tak ada yang memanggilnya dengan sebutan ‘Mini’ kecuali orang itu. Dan benar saja! Lelaki bernama Arka itu yang menyapanya.
Lama ia tercenung dengan kursor berkedip. Tak tahu harus membalas apa untuk sapaan pendek itu. Pikirannya berputar dengan berbagai kemungkinan yang ia takutkan. Jangan-jangan aplikasi ‘Who’s viewed me?’ itu benar adanya dan Arka sejak tadi sudah tahu bahwa Mia membuka halaman profilnya. Membayangkan saja sudah membuat Mia mulas. Namun ia tak ingin berlama-lama bermain dalam dugaan, dibalasnya sapaan itu meski dengan jari bergetar.
Halo juga!
Damn, Mia mengutuki pilihan katanya yang tampak konyol itu.
Apa Kabar? Sibuk apa sekarang?
Pertanyaan basa-basi. Mia paling malas menjawab pertanyaan semacam ini. Tapi apa yang bisa ia harapkan dari pertemuan pertama di dunia maya selain pertanyaan basa-basi? Mendadak Mia merasa sedih. Ia merasa telah menjadi orang asing yang harus memulai kembali upacara perkenalan dengan sesosok lelaki yang hingga kini masih bersemayam di hatinya. Ada bulir air menggantung di sudut matanya.
Kabarku baik. Masih seperti biasa, sibuk dengan deadline akhir tahun. Kamu gimana? Sibuk apa sekarang?
Mia merasa wajib mengajukan pertanyaan basa-basi selanjutnya. Mungkin memang harus begitu aturannya. Ditahannya rapat-rapat gejolak rindu yang sedari tadi terasa membuncah di dada.
Sama, dikejar deadline akhir tahun. Beberapa jadwal pemotretan padat menjelang perayaan tahun baru…
Mia merasakan antusiasme di setiap deretan kalimat balasan dari Arka. Saat ini lelaki itu sedang berada di Singapura untuk proyek pendirian Green House bersama beberapa koleganya. Sekarang rupanya ia sudah menjadi arsitek yang cukup sibuk. Meski begitu ia tetap merendah dengan lebih banyak menceritakan hobi fotografinya. Mia mendesah panjang. Arka mungkin sudah sepenuhnya melupakan masa lalu mereka berdua. Kini ia memiliki karier yang menantang dengan jutaan peluang menanti di depan. Sementara dirinya, hanya menjalani kehidupan yang so ordinary. Datar dan tanpa semangat.
Mungkin ini karma setelah dua tahun lalu ia meninggalkan Arka untuk hijrah ke Jakarta. Saat itu pikiran Mia hanyalah untuk bunda dan dirinya sendiri. Menjadi anak tunggal dan mengurus bunda yang sering sakit sejak ayah meninggal adalah jalan yang harus Mia terima. Karenanya Ia ingin mengadu nasib di ibukota dan merubah nasib keluarganya. Saat itu Mia sama sekali tak memikirkan tentang Arka. Lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk di kelas 3 SMA hingga kuliah itu. Ia tak menggubris ucapan Arka saat lelaki itu meminta pertimbangan tentang kepergiannya.
“Gimana nanti kalau kamu susah nyari jalan pulang? Kamu kan suka nyasar…” ujarnya setengah becanda.
Mia yang duduk di bangku kuliah sudah tak seperti Mia semasa SMA yang bisa dengan mudah luluh pada ucapan Arka. Pribadinya menjadi cenderung keras kepala. Selama ini ia selalu berada di dalam proteksi lelaki itu melebihi sikap semestinya seorang sahabat. Lelaki itu memang terkesan memanjakan dirinya dan Mia mulai jengah dengan segala proteksi itu. Ia lelah dengan sikap easy going Arka yang menganggap sepele ketidakjelasan hubungan mereka.
“Jujur, aku merasa terbebani dengan perasaan ini. Mungkin akan lebih baik jika mulai saat ini kita membuka hati untuk orang lain. “
Ucapan Mia terasa dingin menusuk di menit-menit waktu tunggu boarding di bandara Adi Sucipto. Sesaat ada ekspresi luka di wajah Arka sebelum akhirnya dia menjawab dalam diam. Mia pun sama terluka mendengar ucapannya sendiri, tetapi ia memutuskan itulah yang terbaik bagi mereka. Sejak itu, Arka sudah tak pernah lagi menghubunginya.
Malam itu, Mia harus cukup puas dengan chat basa-basinya bersama Arka. Mungkin memang sudah sepantasnya ia menerima karma ini. You will never realize what you have, until you lose it. Untung saja ia sempat bertukar nomor telepon yang baru sehingga tak kehilangan jejak lelaki itu untuk kedua kalinya.
Kesibukan kantor menjelang akhir tahun sangat menyita perhatian Mia. Meeting bersama klien dan beberapa vendor ditambah persiapan pesta akhir tahun di departemennya memaksa Mia kerja lembur. Ia bahkan tak sempat untuk sekedar makan siang santai bersama sahabatnya, Poppy.
“Yakin lo tahun baruan cuma ikutan acara kantor doang?” ujar Poppy sambil membawakan sekotak burger keju yang disambut dengan senyum Mia.
“Emang kudu kemana lagi? Ikutan juga paling gak sampe midnight. Gue capek kerja rodi dari kemarin,” jawab Mia sembari menjilat lapisan keju yang lumer.
“Yaah…padahal gue mau ajak lo ke party-nya si Angie. Ntar di sana kita countdown rame-rame,” Poppy memasang muka cemberut. Mia hanya tersenyum menanggapi tingkah sahabatnya itu.
Jujur Mia sama sekali tidak merasakan antusiasme yang sama dengan teman-teman sekantornya dalam merayakan pergantian tahun ini. Baginya tahun ini sama dengan tahun-tahun yang lalu, setelah tanggal 1 Januari, mereka akan berkutat dengan rutinitas yang sama seperti sebelumnya. Tidak ada resolusi yang ingin Mia capai. Semangatnya untuk mencapai resolusi telah meredup bersama dengan menghilangnya Arka dari kehidupannya. Mia sama sekali tak menyadari besarnya pengaruh lelaki itu hingga ia merasakan dampaknya saat ini. Sementara ia menjalani hari dengan terbebani oleh ucapannya sendiri, di saat yang sama Arka justru benar-benar melakukan apa yang dikatakan Mia. Tanpa beban, bebas menggapai karier sampai ke negeri Merlion.
Tanggal 31 Desember semua karyawan sibuk melakukan persiapan menyambut tahun baru malam nanti. Poppy sedari pagi sudah ngomel dengan pihak dekorasi yang lupa membuat hiasan balon undian. Mia sibuk mengkoordinasi letak hidangan dengan pihak catering saat tiba-tiba smartphone-nya berdering.
“Ya…halo?”
Hening sejenak di seberang sana.
“Halo, siapa nih? Sebentar ya mbak…” ucapnya pada pramusaji yang sengaja didatangkan dari pihak catering. Ia melangkahkan kaki ke luar ruangan dengan tak sabar. Mungkin sinyalnya bermasalah, pikirnya.
“Suaramu masih sama seperti dulu. Keras dan judes..” ucap suara di seberang sana yang seketika membuat lidah Mia kelu.
“H-halo.. ini s-siapa ya?” Mia sangat mengenal suara itu. Sudah sejak dua hari yang lalu ia mengharapkan suara itu menyapa telinganya. Namun ternyata hatinya masih belum siap.
“Ini Arka. Bukannya kemarin kita tukeran nomor hp? Malam nanti ada acara? Kebetulan aku sedang di Jakarta. Ketemuan yuk…” ucap suara itu ringan tanpa mempedulikan pertanyaan bodoh Mia.
Mia menelan ludah. Malam ini managernya akan memperkenalkan beberapa klien pada dewan direksi dan Mia diberi tanggungjawab untuk mengatur segala sesuatunya.
“Mmm… jam berapa?”
“Jam 9 malam di Sky dinning. Gimana?”
“Mungkin aku baru bisa datang jam 10. Ada acara di kantor, gak apa-apa ya?” ujar Mia lirih. Ia tak mau suara di seberang mendadak membatalkan keputusannya.
“Okey. C u there.” Klik. Telepon ditutup sebelum Mia selesai mengatur ritme jantungnya.
“Yippiii!!” Mia berseru girang. Sesaat kemudian ia berlari mencari Poppy, meminta bantuan sahabatnya itu untuk ikut menghandle acara nanti malam.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 tetapi Mia masih belum bisa beranjak dari sisi managernya. Klien yang mereka undang ternyata sangat antusias dengan kerjasama yang akan dirintis awal tahun nanti. Beragam topik percakapan terus bergulir tanpa ada waktu jeda Mia untuk undur diri. Pesan dari Poppy sudah memenuhi smartphone Mia dan membuatnya tidak fokus menanggapi pembicaraan antara sang manager dan klien.
Lima menit lagi lo gak cabut, gue yang bakal cabut duluan. Mending gue berangkat ke tempat Angie sekarang. >_<
Mia melirik jam tangan coklat tua yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekarang atau nanti sama saja. Yang diperlukan Mia adalah mengumpulkan keberanian untuk bicara.
“Mmm…maaf pak, saya ijin pamit duluan. Ibu saya mendadak memberi kabar sedang tidak enak badan,” dalam hati Mia meminta maaf pada bunda yang ikut terlibat dalam upayanya melarikan diri.
Tanpa diduga sang manager mempersilakannya pergi. Si klien bahkan mengucapkan kata ‘semoga ibumu segera membaik’ sebelum Mia meninggalkan mereka. Tahu gitu dari tadi gue kabur, sesal Mia sambil melangkah cepat. Saat Mia terburu-buru menuruni tangga, Poppy sudah menunggu dengan sebuah taksi terpikir di depan pintu lobi.
“Thanks berat Pop.. Lo emang sahabat sejati gue…” Mia ngacak-acak rambut cepak Poppy sebelum masuk ke dalam taksi.
“Jangan lupa, lo berhutang two-scoop sundae ice cream ke gue!” ujar Poppy pura-pura cemberut, “..dan lo juga berutang cerita..” lanjutnya sembari menurut pintu.
Perjalanan menuju Sky dinning, restoran tempat janjian mereka sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit. Namun, sudah 15 menit berlalu taksi yang ditumpangi Mia masih berjarak beberapa kilometer dari kantor. Jalanan dipadati oleh berbagai kendaraan pribadi dan mobil pawai. Macet parah. Mia memandang tanda pending di smartphone-nya. Di saat ramai begini, sinyal provider andalannya juga ikut-ikutan macet. Ia sudah beberapa kali mengontak nomor Arka, tetapi tak ada nada sambung. Tanpa sadar Mia menggerakkan lututnya dengan panik. Supir taksi memandanginya dari kaca spion tengah tanpa bisa berbuat banyak.
“Pak, saya turun di sini saja,” celetuk Mia tiba-tiba. Si supir taksi bingung.
“Tapi mbak…masih sekitar satu kilo lagi lho, ndak apa?” sebelum si supir selesai ngomong, Mia sudah meletakkan uang di depan kemudi lalu buru-buru membuka pintu taksi.
Mia tak memikirkan berapa jauh ia akan melangkah. Yang ia pikirkan hanya satu, masihkah Arka menunggunya di sana? Setelah dua tahun yang lalu ia memaksa Arka pergi dari kehidupannya, kini ia tak punya kuasa apapun untuk meminta Arka tetap tinggal. Ia tak sanggup membayangkan wajah Arka yang sekali lagi terluka karena kebodohannya, membayangkan ia keluar dari restoran itu dengan langkah kecewa.
Ouuch!! Langkah Mia oleng saat sebelah hak sepatunya patah. Jalanan macet dan suara bising dimana-mana. Sempurna benar entre course dinner kali ini, batin Mia penuh kekesalan.
Mia tiba di dalam restoran yang sudah hampir kosong. Hanya ada dua pasang kekasih yang menikmati dinner romantic mereka. Para tamu lain tampaknya melanjutkan acara di luar restoran itu. Mia menghampiri salah seorang pramusaji yang tengah membereskan meja.
“Oh… tadi saya lihat seorang lelaki berkacamata duduk sendiri di ujung meja itu. Tapi dia sudah keluar restoran setengah jam yang lalu…” jawab si pramusaji saat Mia menanyakan tentang sosok fisik Arka.
Mia terduduk lemas mendengar penjelasan si pramusaji. Apa yang ia takutkan terjadi. Setelah berterimakasih pada si pramusaji, Mia melangkah keluar restoran dengan gontai. Perlahan pandangannya berkabut, dan titik-titik air jatuh dari pipi mungilnya. Ia tak tahu kenapa setiap berurusan dengan lelaki itu hatinya selalu berubah sentimentil. Sempurna sekali kesialan yang dialaminya di penghujung tahun ini. Tanpa resolusi , tanpa harapan mendapatkan cintanya kembali.
Perlahan Mia menutup wajahnya dan terisak.
“Kenapa nangis, Mini?”
Mia menghentikan tangisnya dan menatap sesosok lelaki jangkung yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Mata berbingkai kaca itu menatap lembut ke arah Mia. Ia melangkah pelan ke arah Mia dan berjongkok di hadapannya.
“Tahu nggak, hampir dua jam aku menunggu di meja no.8 itu sendirian dan berharap bertemu sesosok Mia yang cantik dengan gaun malam yang sempurna tapi yang kutemui justru Mia yang tengah menangis dengan make up belepotan seperti ini,” ujar Arka sambil mengulurkan jemarinya. Ia mengusap sisa air mata bercampur eyeliner di pipi Mia dengan lembut.
“Kupikir aku sudah tidak punya kesempatan bertemu denganmu…” ucap Mia lirih.
Arka berjongkok untuk menatap wajah Mia,“Kamu tahu kamu selalu mempunyai kesempatan itu. Hanya saja kamu nggak pernah cukup yakin untuk menggapainya. Begitu juga aku.”
“…..”
“Benarkah? Apa aku masih punya kesempatan?” tanya Mia setelah jeda cukup panjang.
“Kamu pikir aku hanya kebetulan mampir ke Jakarta? tanya Arka penuh retorika, “Menurutmu, untuk siapa lagi aku datang ke kota ini?”
Mia tersenyum lega. Ternyata cintanya tidak benar-benar hilang seperti yang ia duga selama ini. Cinta itu hanya sembunyi di balik ego dan keraguan hati masing-masing.
“Kalau aku diminta menuliskan resolusi untuk tahun depan, aku hanya akan menuliskan satu. Aku ingin terus mencintai kamu sepenuhnya. Dan sejelas-jelasnya,” ujar Arka sembari membuka sebuah kotak merah beludru. Di dalamnya terselip sebuah cincin dengan hiasan permata sederhana.
Mata Mia kembali berkabut. Namun kali ini oleh gelombang keharuan yang luar biasa. Arka menyematkan cincin itu di jari manis Mia dan megecup kening Mia dengan ciuman yang lembut.
Sedetik kemudian puluhan bunga api saling berlompatan di angkasa, disusul dengan suara riuh orang-orang meniup terompet. Cahaya lampu warna-warni memeriahkan suasana malam itu. Dalam hati Mia mengucapkan resolusi yang sama untuk lelaki bermata teduh di hadapannya itu.

Lyin’ here with you so close to me
It’s hard to fight these feelings when it feels so hard to breathe
Caught up in this moment
Caught up in your smile

I’ve never opened up to anyone
So hard to hold back when I’m holding you in my arms
We don’t need to rush this
Let’s just take it slow

Just a kiss on your lips in the moonlight
Just a touch of the fire burning so bright
No I don’t want to mess this thing up
I don’t want to push too far
Just a shot in the dark that you just might
Be the one I’ve been waiting for my whole life
So baby I’m alright, with just a kiss goodnight
(Just A Kiss- Lady Antebellum)

nulis kilat

The Little Prince (Le Petit Prince)

Beberapa hari lalu, Fay, teman SMA merangkap teman sekampusku, bilang kalau dia punya koleksi buku terbaru, dan seperti biasa, antusiasme pertama kalinya setelah membaca buku-buku itu adalah mengirim sms padaku dan besok paginya dia sudah datang membawa buku itu ke kelas. senang sekali punya sahabat seperti dia…karena selera bacaan kami hampir sama, maka aku selalu welcome dengan setiap bacaan yang dia pinjamkan padaku…^_^ kadang aku bahkan tersenyum geli, sebelum dia membacanya, buku itu sudah disodorkan padaku terlebih dulu. “Aku pingin punya teman diskusi kalau nanti aku membahas tentang buku ini…” begitu alasannya kalau aku terbengong dengan buku entah judulnya apa di tanganku.

The Little Prince, adalah salah satu yang dia pinjamkan padaku seminggu yang lalu. bukunya tipis, dengan ilustrasi ala anak TK di depannya. Aku pernah mendengar tentang buku itu. katanya itu adalah cerita anak dari Perancis yang sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. karena penasaran, kubaca juga akhirnya.

Buku ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang menurut pengarangnya sangat istimewa. Oleh  karena itu dia menyebutnya Pangeran Kecil. Di bukunya diceritakan petualangan Pangeran kecil dari planet B 126 menuju planet bumi.  Dalam perjalanannya, dia melewati  berbagai planet yang dihuni oleh berbagai karakter manusia. Ada si Raja, si Angkuh, si Pengusaha, si Peminum dan si Penyulut lampu. Pangeran kecil mengembara ke sana kemari mencari teman. Sesampainya di bumi Pangeran Kecil bertemu dengan seekor ular, seekor rubah, dan segerombol mawar di sebuah kebun. Ini salah satu cupilkan kisahnya sewaktu bertemu dengan si rubah…

Continue reading “The Little Prince (Le Petit Prince)”

Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati

Setahun yang lalu aku mengenal seseorang yang sangat baik. Dia tiba-tiba datang menenangkanku ketika bola kaca di hatiku retak karena suatu hal. Dia bilang bisa membantu memperbaikinya, tapi dia meminta aku menunggu karena saat itu sedang mengerjakan tanggungjawab yang lain. Seiring waktu berjalan, kami pun saling bertukar cerita tentang teman, keluarga, hobi dan masih banyak lagi. selama cerita mengalir dari masing-masing hati, sepertinya ada yang aneh dari diriku. Terutama ketika aku menyadari bahwa bola kacaku terasa baik-baik saja meski sudah retak, terasa nyaman dan apa adanya. Suatu hari kami pernah berencana naik sepeda bareng, sambil membawa bola kacaku yang sudah tidak sempurna itu, menuju rumah hatinya. Lalu aku pun menunggunya di suatu tempat. Lama sekali dia tidak datang…orang-orang yang ada di situ berlalu lalang dengan cepat, sementara aku masih diam dengan sepeda terparkir manis di tepi. Mungkin karena bosan melihatku bengong tanpa kerjaan, seorang teman membunyikan bel sepedanya ketika  lewat di depanku. “Kring…kring…mau sampai kapan di situ?” tanyanya ketus. Aku cuma mesem, lalu membalas, “Sampai aku ketiduran…dan mungkin masih bisa ketemu dia dalam mimpi…itu sudah cukup.” Lalu aku tetap diam  di samping sepedaku, sementara temanku cuma geleng-geleng kepala, “Terserah kamu lah…” dan pergi mengayuh sepedanya sendiri. Aku masih kukuh di situ, menunggu sambil sesekali membaca smsnya, “Hati saya udh untuk seseorang…Seseorang yg sudah dgn sabar menantiku dgn sepeda cintanya ^^

Continue reading “Bola kaca, Sepeda, dan Rumah Hati”