Idiopatik

Terkadang dunia tak membutuhkan jawaban

bagi sebuah tanya yang berawal dari kata ‘mengapa’

Bahkan tak mengenal sebab dan karena

Jikalau ada deretan kata yang mendeskripsikan sesuatu,

percayalah itu takkan absolut

hidup itu relatif, kecuali sang Pencipta

tak segalanya butuh alasan

kata-kata hanya efek samping belaka

pun ketika kau tanya “mengapa aku? Yakinkah kamu?”

hatiku tak mampu menjawab apa-apa

rasa ini idiopatik…

tak terjabarkan lewat rumus logaritma

tak terlukis lewat spektra warna apapun di dunia

terkadang dunia tak membutuhkan jawaban

biarlah tetap menjadi sesuatu yang idiopatik

rasa ini hanya milikNya dan kan tetap jadi rahasiaNya

silence

Pernah kudengar sebuah lirik berbunyi, “jam dinding pun tertawa karena aku hanya diam dan membisu….”
Ah, sungguh melelahkan.
Meski hanya diam, tapi 99,89% energi dari kalori yang kudapat dari sarapan nasi kucing tadi pagi terkuras sudah.
Dan jam dinding terbahak karena hal itu, persis seperti lirik barusan.
Seolah mengejekku (atau memang iya?!)
Detak jarum jeleknya seperti bisikan, “0,11% kau bawa kemana? Untuk sembunyi dan terus berlari?”

……
……….
…………..
………………
Apa memang seperti ini caraku menyukaimu?
Entahlah…

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?

Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?

Dan saling menyayangi bila ada ruang?

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurkan tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru tanf tak terbagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Filosofi Kopi : kumpulan Cerita dan Prosa satu Dekade

Dewi ‘Dee’ Lestari

6 Responses to “sajak mati”

  1. satuaja said

    Terdiam bukan berarti mati
    Ia hidup diantara keberadaan
    Jika detak itu bisa teraba….
    Hanya aku menerka….
    ada apa denganmu…
    jika raganya pun tak berasa..
    lelahkah engkau..
    tak tahu…..
    karna hanya hidup ini hanya kepalsuan belaka…
    tiap jalan hidup manusia hanya sandiwara belaka…
    Hanya sekedar “mampir ngombe”…..

  2. Nan..

    0,11% itu kelimpahan atom C-13 di alam lho…

    jadi angka 0,11 itu milik si C-13 yang dibawa kabur olehnya^^

    jam dindinglah yang membawa 98,9% sisa energimu yang dibuang untuk menunggunya..

    tetaplah berusaha dan berdoa

    ganbatte..

  3. KuThiLaNK said

    huumzzzz…

    menyukai sapa tuhh???

  4. adya said

    ini nih ya kadang ga aku ngerti dari diri sendiri… kalo lagi ‘error’ suka puitis. hahaha…, thx commentnya, but I’ll be alright!

  5. aditz07 said

    “Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat” Yup, mantapkan niat n’ keyakinan ^^ karena hanya dengan dua hal itulah.. kita mampu bertahan
    juga tak lupa doa kepadaNya… ^^

  6. superkecil said

    aku mau ngelanjutin puisi..

    “…dan hanya superkecil
    yang mampu menembus sela-sela di padatnya kerumunan”

    :lol:

Leave a Reply