Aku, sewaktu masih duduk di bangku SD, adalah tipikal anak perempuan penyendiri. Tidak suka banyak bicara, tidak banyak teman (satu2nya teman dekatku adalah Lita, sepupuku sendiri yg kebetulan seusia, satu sekolah, dan selalu berangkat bersama), dan paling malas berinteraksi dengan orang lain. Padahal teman-teman perempuanku yang lain sibuk membentuk geng, dengan agenda utama gossip tentang kakak kelas A, B atau C, acara jalan-jalan se-geng, naksir-mentaksir dan ledek-meledek antar angkatan (terutama dengan adik2 kelas yg dirasa cukup centil dan mengganggu ketentraman geng). Kalaupun aku ada dalam sebuah kelompok tertentu misalnya, itu lebih karena Lita, sepupuku itu, dinobatkan sebagai ketua geng. Ehehehe…jadilah aku sebagai anggota tak resmi, yg kadang lebih suka ngabur daripada ikut nimbrung bersama mereka.

Kalau boleh jujur, aku lebih suka bermain dengan boneka dekilku si Gajah atau membaca buku2 pelajaran (sok banget yak..hohoho..), daripada ikut ngerumpi bersama teman-temanku itu. Kadang update juga tentang gossip si A atau B, tetapi semua itu hanya sebagai formalitas pergaulan saja. Sewaktu adu mulut dengan sekelompok adik kelas, aku juga hanya berfungsi sebagai penonton (;p). Beberapa temanku mulai tak suka dengan sikap cuek dan tidak setiakawanku itu, yang perempuan ternyata ada yang diam2 menggosipkanku di belakang (sampai akhirnya terdengar juga olehku..huff), dan yang laki-laki berusaha dengan berbagai cara ‘mencari gara2’ denganku.

Karena dasarnya tidak suka cari ribut, aku diamkan saja setiap gossip miring yang beredar. Dan setiap anak laki-laki yang usil padaku, kuacuhkan saja. Tapi ternyata keusilan mereka tidak pernah berhenti. Sampai suatu ketika aku mengadu pada Papa, dan beliau pun berkata, “Ya sudah…mau kamu gimana? Kalau memang masih bandel ya kamu tonjok saja…” begitu kata papa sambil tertawa. Waktu itu, karena saking kesalnya, aku tidak memahami maksud bercandaan dibalik kata2 papa dan menganggap kata2 itu sebagai tanda legalitas demi upaya pembelaan diri.

Dan benar saja, suatu hari…saat seorang teman laki-lakiku berusaha berulah lagi di depanku, spontan saja aku mempraktekkan ‘ajaran’ papa. Bukan tonjokan…tetapi lebih parah dari itu. Tepatnya sebuah tendangan di area ***** (ga tega aku nyebutnya…) dan temanku itu langsung bersujud syukur di depanku. Hohohoho….syok juga sebenarnya diriku waktu itu karena tumben2nya temanku itu menangis selayaknya anak perempuan.

Akhirnya bu guru pun datang dan memarahi kami berdua. Aku dinasehati agar tidak mengulang perbuatanku lagi dan meminta maaf pada temanku itu (cih…ga rela sebenarnya diriku bersalaman dengannya). Dan sepulangnya ke rumah, papa lagi2 malah tertawa mendengar ceritaku.

Esok harinya, ternyata masih ada permasalahan seputar  anak SD dan lika-liku kehidupannya yang tidak pernah benar-benar lepas dariku. Temanku itu masih suka cari tibut (masih tetap adu mulut, tendang2an, dan cubles2an pensil), teman2 perempuanku juga masih ada yg jadi backstabber (walaupun masih banyak yg baik sama aku sih…). Yup, begitulah diriku sewaktu SD dulu… tidak bisa dipungkiri mungkin terkadang sikapku bikin kesal juga. Biarpun demikian, aku tetap tidak kapok melanjutkan sikap cuek dan antisosialku itu sampai di bangku SMP…hohoho…

2 Responses to “Sepenggal Cerita di jaman SD”

  1. aditz said

    backstabber apa to nanz??
    jajal : on :p

  2. back=punggung
    stab= menusuk
    a.k.a menusuk dari belakang….hahahaha…
    di dpn jd temen, ntar blkgn ngomongin temennya…
    hehehe,bbrp temenku ada yg punya sifat alamiah itu ;p

Leave a Reply