Ada ruang di hati ini yang kubuat khusus untuknya. Sebuah ruang mungil tempat aku menyimpan semua memori tentang dia. Tentang senyumnya, suaranya, dan diamnya. Tentang sosoknya yang cuek, keras, dan konvensional. Tentang seorang lelaki yang membuatku jatuh hati untuk pertama kali.

Hari-hari panjang telah ia lewatkan bersamaku. Tak terhitung waktu yang ia persembahkan hanya untukku. Setiap detik aku tahu ia sayang padaku. Meski begitu, tak satu pun kata cinta terucap dari bibirnya, dan dariku juga. kami sama-sama membisu. Meskipun aku sadar sepenuhnya di dalam ruang hatiku tersimpan ribuan kata cinta untuknya.

Kadang aku benci melihat diamnya…. Read the rest of this entry »

Horor setiap Kamis pagi

November 28, 2008

Unit V lantai 3. Dengan semangat pagi yang membara, saya menaiki anak tangga menuju laboratorium komputer tempat biasanya anak2 CCP melaksanakan praktikum Farmakoterapi. Meski dengan nafas ditarik satu-satu, akhirnya sampai juga di ruang yang dituju. Fuiih…alhamdulillah masih belum dimulai, pikir saya. Dengan tatapan yang biasa diberikan para asisten pada mahasiswi2 yang datang mepet, saya pun segera menuju kursi di salah satu sudut ruang itu. Sambil masih menggenggam lembaran handout, mata saya sibuk menscan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Semalam lembaran handout itu belum tersentuh sama sekali dan pagi ini 2 jam sebelum praktikum dimulai mulut saya baru komat-kamit menghafalnya. Hohohoho….ternyata dosen saya yang terkenal pelit nilai sudah datang. Walhasil, lembaran handout harus terlepas dari tangan (hiks…) dan menunggu sang dosen membacakan soal mencongak a.k.a pretest. Satu demi satu soal dibacakan… satu demi satu pula keringat dingin menetes….(soalnya susah euy!)

Tak boleh ada mengarang indah disini,,, Read the rest of this entry »

Dalam putaran bumi, ada kalanya siang datang menyilaukan. Malam hadir membagi sunyi dan gelap. Panas meraja di teriknya siang sementara dingin membeku di senyapnya malam. Di antara dua dimensi masa itu, masing-masing tinggal dua sosok ciptaanNya. Ketika matahari perlahan terbit dari ufuk timur, sang dewi Mentari datang menebarkan sinarnya. Berusaha memberi kehangatan pada orang-orang di sekitarnya, menemani mereka menjalani rutinitas apa saja setiap hari. Saat giliran senja berwarna jingga muncul sebagai pertanda bergantinya hari, ketika itu mulainya pangeran Bintang berkelana di langit malam. Menghiasi luasnya semesta dengan kerlip yang mengagumkan. Berbagi cahaya bersama bulan dan bintang lainnya.
Bintang dan Mentari. Kedua sosok itu dahulu tak pernah bertemu Read the rest of this entry »

Romantis itu…

October 25, 2008

Bukan diukur dari berapa tangkai mawar yang kamu berikan di malam minggu

Bukan dilihat dari berapa banyak coklat plus bermacam kado yang kamu sampaikan untukku

Bukan pula datang dari puisi karya Gibran yang kamu ungkapkan sebagai lagu

Memang…semua itu bisa membuat sejuta kaum hawa bertekuk lutut padamu

Tapi bagiku, romantis itu…

Read the rest of this entry »

Sesaat Sepi di Kala Ramai

October 25, 2008

Jarum jam terus berlari dan tak terasa aku telah menghabiskan 86400 detik untuk bermacam hal setiap harinya. Lalu esoknya akan ada detik baru dan begitu seterusnya hari-hari berganti. Duniaku terus berputar dipenuhi tumpukan laporan Farmakoterapi, tugas bikin paper dan jurnal dari antah berantah yang perlu diterjemahkan. Tetapi hari-hariku begitu istimewa karena selalu diisi oleh orang-orang yang tak henti turut mewarnai dengan tawa, suka dan duka. Maen+kuliner bareng, bikin PeeR bareng, window shopping sampe pegel, jalan-jalan ke pantai kalo libur panjang. Semua begitu ramai dan gaduh. Semua terasa melelahkan sekaligus menyenangkan.

Suatu ketika saat aku lelah menghadapi dunia yang berdinamika, aku mencoba berjalan sendiri. Memutar ulang semua peristiwa di memori otak sambil menikmati sekeliling dalam diam. Terkadang sambil menutup mata untuk benar-benar mengerti segalanya. Mengenang jalan yang dulu pernah dilewati, menjalani saat ini, dan berpikir tentang yang akan datang. Dan kemudian aku tahu bahwa ternyata diri ini begitu kecil… begitu tak berarti tanpa Dia. Barulah aku menyadari bahwa segala yang telah kulalui hingga detik ini takkan ada tanpa kuasaNya. Maka yang dapat terucap dari bibir ini hanya kata syukur dan ampun. Dalam sepi, aku mencoba memperbaiki langkah. Menghadap padaNya di sela waktu menjalani kehidupan dunia. Dalam sepi, aku paling merasa menjadi diri sendiri.

Midtest in process…hohohoho….SEMaNgat!!!

Jogja, 17 Oktober 2008
Langit mendung, 23.00 WIB

“Please check in different case, first…^^ ” begitu bunyi short message service yang saya terima beberapa menit setelah dia pergi menitipkan bingkisan berpita biru di tangan saya. Awalnya sempat heran dan bertanya-tanya, hari special apa ini sampai dia repot-repot membawa sesuatu? Perasaan ulang tahun sudah lewat 3 bulan yang lalu, pikir saya. Dan lagi, saya cuma pesen ke dia supaya menge-burn v-klip lagu2 favorit saya.
Setelah benar-benar dicheck, baru tahu saya ternyata diantara keempat CD dalam bingkisan itu, ada satu yang berbeda. Satu CD yang membuat saya sedikit mengalami syok terapi (hohohoho….). Lagu di CD itu benar-benar ‘aku dan dia banget’ ditambah deretan kata di Microsoft Word yang dia tulis sebagai pengantar. Hmm, usaha Anda boleh juga Mister!^^
NB :Buat sohib terbaikku yang udah bela-belain begadang pe’ jam4 pagi…makasih banyak yak! Good Job:D
OST of the years :BIP-Sampai Nanti

Sapardi said…

October 12, 2008

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana….

dengan kata yang tak sempat diucapkan api pada kayu yang membuatnya menjadi abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan ucapan yang tak sempat disampaikan hujan pada awan yang menjadikannya tiada

(kira2 gitu deh…aku lupa2 ingat. tapi yang pasti dalem plus aku bangetzzz)

warnet 500 m dari rumah, 17:21

Huff…berat ternyata…

Dadar Gulung buat Adek

September 22, 2007

- 7 Ramadhan 1429 H, Ba’da magrib-

Dari sudut tiang lampu merah, beberapa orang bocah berhamburan menghampiri pengendara motor maupun mobil yang tengah berhenti sejenak di persimpangan. Langit makin gelap dan angin malam kian menusuk tulang. Salah satu bocah (kira2 umur 13an) mendekati pengendara motor AB 3868 JI sambil bersiap-siap mengelap body motor. Menyadari motornya memang banyak debu, si pemilik diam saja menikmati jari-jari kurus si bocah mengelap. Beberapa detik kemudian, menyadari bahwa ia tak punya receh untuk diberikan pada si bocah, si pengendara motor dgn reflek bilang, “ udah Dek nggak usah, makasih.”
Seketika itu, garis muka si bocah berubah. Sambil memasang mimik muka paling melas yang pernah ada, si bocah berkata, “kasihan mbak…buat sahur nanti..”
Ternyata ekspresi innocent itu cukup untuk menendang telak syaitan yg semula bersemayam di hati si pengendara (awalnya, syaitan bilang, “Cuma akal2an tuh bocah!”)
Selama detik berlalu, tatapan si bocah lebih tajam menusuk dibandingkan cuaca malam itu. Dengan panik, si pengendara akhirnya menemukan sesuatu di balik kantong jaketnya. Ia ingat beberapa saat lalu sebelum pulang, seorang teman memberikan dadar gulung padanya,”buat ganjel sementara…”
Ragu, si pengendara motor mengambil sepotong dadar gulung (isi apa entahlah…). Lagi2 syaitan nempel di dinding hati dan berbisik, “Percuma, bocah kaya’ gitu cuma mau duit!” Tapi mata melas itu seolah menggerakkan tangan si pengendara ke depan. Dan betapa terkejutnya ia, sewaktu melihat segaris senyum mengembang dari bibir si bocah. “Makasih mbak…!” ujarnya sambil berlari ke tepi jalan. Di sana si bocah tampak berkumpul dg 2 temannya dan menikmati dadar gulung itu bersama.
Sebelum lampu menyala hijau, si pengendara motor sempat mendengar teriakan si bocah, “Enak banget mbak…!!”
Langit makin gelap. Cuaca malam kian membekukan. Dan suara si bocah membawa bekas rasa perih di hati. Besok2 bawa dadar gulung yang banyak sekalian, batin si AB 3868 JI dalam hati.

(Buat yg ga sengaja baca: masih byk si bocah di mana-mana, guys…)

Membaca permainan kata Noe

September 1, 2007

yakinkah ku berdiri
di hempa tanpa tepi
bolehkah aku
mendengarMu

tubuh dalam emosi
tak bisa bersembunyi
aku dan nafasku
merindukanMu

Read the rest of this entry »

Looking for my Denim…

August 29, 2007

Setiap orang di dunia ini punya ciri khas masing2. biar dikata kembar, setiap orang punya jiwanya sendiri. Tak beda dengan benda mati yang satu ini. Yang dipakai hampir oleh semua umat mulai dari abang parkir di simpang lima sampai artis sekelas Nadine Candawanita, yang trennya tak pernah usang dimakan jaman, yang keliatan sama saja, tapi ternyata beda. Benda ini, setelah iseng saya amati, ternyata punya soul tersendiri pada tiap orang yang memakainya. Sebut saja dia, jeans.

Saya baru menyadari ternyata jeans itu memiliki ciri yang unik dan beda. Padahal mulanya saya pikir seragam sejuta umat ini punya pola yang sama, tebal dan dominan biru. Well, kisahnya bermula ketika saya sedang kebingungan mencari celana jeans warna ‘hitam’. Survey di berbagai tempat sudah saya lakoni. Awalnya saya kira bisa mendapatkan tuh barang dengan mudah, karena mau saya cuma dapat jeans warna ‘hitam’. Titik.
Tetapi, usut punya usut, jeans ‘hitam’ yang saya inginkan susah dicari. Bukan karena ga ada yang berwarna hitam (seantero toko juga punya kalo cuma yang warna hitam), tetapi karena hitam yang saya liat benar2 bukan ‘hitam’ menurut saya. Ada yang hitam keabu-abuan, hitam garis2, abu2 kehitaman, hitam ga jelas, hitam ditambah renda2 (what the…). Semakin banyak toko yang saya satroni, semakin saya pusing. Sepertinya semua celana jeans dengan beraneka model dan warnanya sedang menari2 di kepala. Saya sempat berpikir, apa gara2 saya yang pemilih ya? Ya, itu juga salah satu sebab pusingnya saya.
Lalu, di tengah pencarian saya, iseng di sepanjang jalan saya mengamati orang2 yang sedang berkendara, terutama yang lagi pake jeans. Saya pingin tahu saja warna dan model jeans yang mereka pakai. Dan dari sinilah saya bisa menulis kata pengantar seperti di atas. Bahwa ternyata setiap orang memakai jeans yang berbeda. Itu menurut pengamatan saya. Mungkin ini bisa saja salah karena saya tidak menerapkan metode penelitian yang sistematik meliputi hipotesis, operasionalisasi variabel, observasi, analisis data dan tetek bengeknya. Mungkin saja pada jarak beberapa juta meter ada orang yang sedang memakai jeans yang sama seperti yang sedang saya amati, saya tidak tahu. Yang pasti, dengan jeans berbeda yang melekat di kaki setiap orang, saya jadi punya filosofi baru tentang busana ini. Meski tampaknya sama, jeans punya daya tarik yang berbeda untuk setiap orang. Mereka dipilih berdasarkan selera hati dan dipakai berdasarkan rasa nyaman. Mereka dipilih sesuai karakter empunya kaki. Mereka seolah mempunyai soul yang mampu membuat si Bukan Pemilik yang Tepat merasa tidak cocok memakainya (hmm…semacam tongkat sihir mungkin).
Jadi, dimana sebenarnya jeans ‘hitam’ yang cocok untuk saya? Jujur, saat ini saya masih pusing….